Tentang Skripsi dan Risiko
Aku bisa bilang aku menyelesaikan skripsi sesuai target.
Namun, pada satu waktu dari sidang skripsi sampai akhirnya wisuda, ada satu bagian dari diriku yang tidak merasa sepenuhnya bangga dengan pencapaian itu.
Sesaat setelah sidang skripsiku selesai dan dinyatakan lulus dengan perbaikan, yang aku jawab ketika teman-teman masuk ke ruang sidang untuk menyelamatiku kemudian bertanya, "gimana perasaanmu?"
Hampa...
Aku ingat aku menjawabnya dengan hampa. Aku tidak benar-benar merasa bangga atas hasilnya.
Mungkin memang wajar untuk lulus dengan perbaikan, tapi saat itu rasanya aku tidak merasa pantas dengan perbaikan yang sebenarnya lebih mengarah pada awal mula dan proses pengerjaan skripsiku.
Bisa aku katakan proses skripsiku penuh dengan aku yang takut mengambil risiko, dan mau yang cepat-cepat aja. Mulai dari topik yang sebenarnya bukan ketertarikan awalku, dosen pembimbing yang aku pilih berdasarkan kepastian aja, hingga pada prosesnya aku mencari celah-celah untuk bisa gampang aja. Topik yang aku ambil tidak benar-benar muncul dari keresahan atau keingintahuan pribadi, lebih pada ada tema dan teori apa yang bisa cepat dikerjakan karena sesuai dengan dosen pembimbingku.
***
Ceritanya bermula dari aku ikut kelompok penelitian kakak tingkat di semester lima yang pembimbingnya akhirnya menjadi dosen pembimbing skripsiku. Aku enjoy mengikuti penelitian itu, terjun langsung dalam bentuk memberikan pelatihan sampai pada penulisan. Lalu pada semester lima aku berlanjut sebagai asisten penelitian beliau. Dari sinilah, banyak sekali pintu-pintu yang terlihat indah dan mudah serta tampak sangat minim risiko. Beliau menawarkan untuk mengambil topik skripsi yang sejalur dengan tema yang beliau dalami. Selain itu salah satu bentuk kemudahan yang beliau tawarkan juga adalah sudah adanya skala penelitian psikologis yang beliau siapkan dan boleh untuk digunakan jika aku memilih untuk melanjutkan di tema itu. Bersamaan dengan itu, ada jaminan bahwa dosen pembimbingku pasti beliau dan aku aman dari kemungkinan harus memikirkan mencari kelompok penelitian baru. Aku yang merasa tidak punya banyak koneksi dan keberanian untuk menjdai orang yang mengajak terlebih dahulu akhirnya memilih opsi paling aman. Bagiku yang memikirkan harus sebisamungkin lulus 7 semester menganggap itu adalah pilihan yang paling tepat -minim risiko dan menjanjikan-. Alhasil aku mengambil topik itu meskipun ada tema lain yang sebenarnya lebih aku minati.
Pilihan itu tidak seharusnya salah karena sebenarnya kalau aku mau, aku masih bisa mencari variabel yang bisa dihubungkan dengan tema besar yang aku minati dari awal. Namun, langkah selanjutnya yang aku ambil juga mencoba meminimalkan risiko sebanyak mungkin. Ketika teman kelompok satu bimbinganku mengombinasikan kemudahan yang diberikan oleh dosenku dengan tambahan variabel yang di luar dari pilihan yang disediakan sesuai dengan ketertarikan mereka, aku memilih untuk mengambil dua variabel yang skalanya sudah disediakan. Masalahnya, aku memilih itu bukan berdasarkan masalah melainkan aku memuncul-munculkan masalah untuk bisa menghubungkan keduanya.
Lalu pada bagian metode, sekali lagi aku mencoba mencari celah agar untuk merasa benar dan mudah. Aku mencoba menggunakan metode mengikuti cara-cara yang aku baca dari penelitian-penelitian dan buku sumber yang tampak mudah saja. Dan disitu, aku tidak banyak bertanya saat bimbingan, hanya langsung menyodorkan hasil dari branstorming dengan diriku sendiri. Dari sampling yang aku lakukan sampai jumlah sampel yang aku ambil, sepenuhnya berdasarkan interpretasiku dari sumber bacaan di buku pegangan yang paling banyak digunakan peneliti skripsi sebelumnya. Selama proses bimbingan aku tidak banyak bertanya, antara karena aku kurang terlalu tertarik, dan merasa sok percaya diri sudah mengerti semua penjelasan general beliau tentang kepenulisan skripsi. Aku juga tidak mencoba melakukan bimbingan individual, hampir selalu bersama kelompokku. Alhasil ya, cepat-cepat saja aku menulis. Aku mengambil data full online, dan aku menganggap itu adalah sebuah perjuangan yang luar biasa hebat. Mengirimkan dm melalui linkedin kepada ratusan orang dengan memanfaatkan fasilitas premium gratis selama satu bulan.
Lalu aku menyusun bab selanjutnya, melakukan bimbingan ketika teman mengajak dan hanya lebih banyak mendengarkan dari pertanyaan-pertanyaan teman-temanku. Aku hanya menyampaikan progress dan mengirimkan hasilnya tanpa memastikan beliau sudah benar-benar membaca dan membedah tulisanku.
Yang aku pikirkan ketika menyusun skripsi itu adalah aku harus sidang sebelum bulan maret habis karena sudah melewati target awal dalam 3,5 tahun. Jadi ketika pembimbingku memeriksa sekilas tulisanku lalu langsung mengatakan untuk boleh sidang, aku langsung mempersiapkannya. Dengan pressure waktu dan melihat teman-teman lainnya sudah banyak yang sidang, aku merasa harus cepat-cepat juga.
Alhasil, pada hari sidang muncullah banyak pertanyaan dari penguji yang menemukan akar permasalahanku. Bahwa skripsiku terlihat tidak datang benar-benar dari suatu masalah, dan memang terlihat terlalu meremehkan beberapa aspek. Dari hubungan variabel yang sebenarnya sudah banyak diteliti sehingga kurang adanya novelty, kebaruan yang sifatnya hanya konteks tanpa benar-benar menggali permasalahan yang seharusnya bisa diangkat, hingga metode yang seharusnya bisa menggunakan cara lain dan generalisasi yang berasal dari data yang terlalu sempit.
Awalnya aku kira sudah melakukan usaha yang besar sekali untuk penelitianku, nyatanya itu tidak sejalan dengan apa yang seharusnya dilakukan. Aku masih tersenyum ketika baru menyelesaikan sidang karena teman-temanku datang untuk menyelamati. Aku masih tersenyum untuk menunjukkan aku benar-benar diluluskan. Namun, seperti yang aku katakan di awal, di dalam hati rasanya lebih pada hampa bukan lega. Tidak senang tapi juga tidak sedih yang berlebihan. Aku baik-baik saja sampai besoknya ketika sendiri, aku menangis. Hari-hari mengerjakan revisi dengan harus melihat dan mencatat kembali feedback dosen (menggunakan rekaman zoom) rasanya menakutkan sekali. Setiap aku membuka videonya ada perasaan menekan di dada yang coba aku lawan.
Setelah beberapa waktu dan selesai dengan revisianku yang juga terkesan yang penting selesai saja, aku mencoba merenungkan kenapa merasakan hampa di akhir sidang skripsiku. Ya memang sih, kata dosenku yang lain, skripsi itu gak harus bagus yang penting selesai. Namun, aku merasa kesalahanku adalah terlalu takut mengambil risiko, dan hampir selalu mencari yang mudah dan aman, Yang tidak mengharuskanku mengeluarkan effort yang besar di semua hal.
Melihat teman-temanku yang lain dengan skripsinya yang bertopik lebih megah dan sesuai ketertarikan mereka. Melihat mereka menceritakan dengan penuh bangga, aku cenderung memilih untuk tidak menceritakan tentang skripsiku sama sekali. Ketika ditanya skripsiku tentang apa, aku hanya menjawab lingkup tema besarnya saja kecuali mereka menanyakan judulnya secara spesifik. Kadang aku seperti menceritakannya dengan wah pada saudara-saudaraku, tapi dalam hati aku punya keraguan yang besar pada diriku sendiri. Aku tak ingin terlihat tak yakin bagi kakak-kakakku yang sudah menunjukkan kepercayaan padaku untuk bisa lulus secepat yang aku bisa. Aku tak ingin memberatkan mereka dengan tanggungan diriku yang harus kuliah lebih lama sehingga aku harus menunjukkan versi 'terbaik' itu.
Itu harusnya menjadi perbaikan bagi diriku, harus lebih berani mengambil risiko. Tidak meremehkan apapun. Tidak mau cepatnya saja. Dan mencoba mencari hal-hal yang menarik, yang membuatku bisa dan mau bertanya. Tidak seharusnya hanya mengikuti arahan, tapi juga harus inisiatif duluan. Yah, dan aku masih berproses untuk itu sampai sekarang (ketika aku akhirnya menulis dan mempublish tulisan ini).
Komentar
Posting Komentar