Childhood Memories: Harus Kebagian Semua

Aku punya banyak saudara kandung dengan jarak usia yang dekat. Salah satu dampak dari jumlah itu adalah harus berbagi makanan dan rela dengan porsi yang relatif sedikit untuk setiap orang. Bahkan terkadang karena itu, makanan yang bagi orang lain itu bisa dimakan sering, bagi kami atau setidaknya seingatku aku merasa itu adalah makanan mahal dan jarang. Meskipun makanan itu dimasak dalam jumlah banyak pun, karena kami harus memastikan semua orang merasakannya, maka kami hanya bisa mengambil secukupnya dalam sekali makan. Selain itu, dengan jumlah orang yang banyak ada juga kebiasaan yang kalau dipikir sekarang itu lucu tapi masuk akal. Kami diberi jatah yang sama ketika mau membeli jajanan bersama-sama sekeluarga. 

***

Makanan mewah menurutku pada saat itu

Makanan yang aku katakan biasa bagi orang lain (atau temanku saat itu) tapi terlihat sangat wah bagiku adalah cumi-cumi. Aku ingat yang membuatku bahkan berpikir bahwa dia orang 'kaya' adalah karena dia bisa membawa bekal makan dengan lauk cumi. Padahal pada saat itu, makanan bekal buatku adalah makanan yang ketika dimasak di rumah porsinya lebih banyak dari pada biasanya, sehingga bisa diambil untuk dibawa ke sekolah. Kemungkinan lainnya adalah bahwa makanannya bisa dimasak cepat seperti omelet. Bayanganku juga adalah bahwa setiap kali masak cumi-cumi (bumbu hitam) di rumah, pasti kami hanya sempat memakannya sekali makan untuk semua atau dua kali makan tapi hanya beberapa orang. Kalau dipikir-pikir sekarang, bisa jadi porsi yang dimasak di rumahku sama atau bahkan lebih dibandingkan temanku (yang satu keluarga hanya beranggotakan empat orang). Namun, karena sekeluarga harus berbagi untuk delapan sampai sepuluh orang, ya tentunya kami hanya bisa mendapatkan relatif lebih sedikt per orangnya. 

***

Gorengan dan kue-kue di rumah

Dulu di keluargaku setiap kali kami mau jajan secara klasikal, kami hanya mendapatkan jatah sebanyak dua. Tidak peduli itu jenisnya sama atau beda, pokoknya hanya dua, tidak boleh lebih. Salah satu yang paling membekas dalam ingatan adalah setiap mau membeli gorengan, kami harus membuat list terlebih dahulu dan menanyakan semua orang apa yang diinginkan. Sebagai anak nomor dua dari bawah, itu menjadi tugasku bersama satu saudara di atasku (dan/atau adikku - aku lupa-lupa ingat) untuk bertanya pada kakak-kakak dan pergi untuk membelinya. 

"Mas mau beli apa sama apa?" begitu kurang lebih pertanyaannya. 

Sebenarnya, jumlah dua mungkin sebenarnya tidak sedikit, terlalu banyak juga tidak baik. Hanya saja, ketika mendengar cerita teman-temanku, mereka terdengar tidak pernah harus membatasi jumlah yang mereka dapatkan per orang. Atau setidaknya tidak ada ungkapan langsung bahwa jatah mereka hanya sekian. 

Selain itu, kalau misalnya orang tua kami membawa pulang kue yang kalau dibagikan tidak bisa rata, konsekuensinya adalah semakin kecil anaknya (secara urutan usia), semakin kecil pula bagian yang didapatkan. Setelah sudah dewasa sekarang sebenarnya itu masuk akal, karena adil itu bukan memberikan yang sama besar tapi sesuai dengan kebutuhan masing-masing (kan?). Hanya saja, karena aku anak hampir bungsu, maka hampir selalu aku mendapatkan bagian yang lebih kecil. Bagi seorang anak (atau setidaknya aku sendiri pada saat itu), aturan itu sangat menyebalkan. 

***

How it kind of shape me in a way

Bisa jadi ini adalah salah satu alasanku ketika bisa membeli suatu jajanan sendiri terkadang berbagi tidak selalu menjadi bagian utama yang terlintas di pikiranku. Aku baru benar-benar menyadari ini ketika mulai lebih banyak berinteraksi dengan berbagai jenis orang. Bahwa seringkali mereka kalau membeli sesuatu pasti terpikir dibawa pulang untuk bisa dibagikan atau diberikan pada orang rumah. 

Biasanya, "aku pingin ya aku beli, aku beli pakai uang sendiri jadi nggak harus berbagi. Sudah susah menyisihkan uang untuk aku jajan yang aku suka dalam porsi banyak, ya, maunya untuk aku sendiri aja". 

Namun seiring berjalannya waktu sepertinya faktor lainnya juga adalah bahwa saat itu belum menghasilkan uang sendiri. Meskipun aku punya uang pribadi, uang itu adalah pemberian (dalam bentuk THR atau uang jajan yang aku sisihkan dan tabung) sehingga uangnya relatif terbatas. Sekarang ketika aku sudah kerja, aku setidaknya bisa mengelola uangnya agar bisa membeli lebih untuk disimpan khusus buatku sendiri. Jadi biasanya beli seporsi untuk bersama dan tambahan satu item kecil yang aku khususkan untuk diri sendiri. Selain itu ketika membeli gorengan, untuk memenuhi 'inner child' itu, aku hampir selalu membeli dalam jumlah yang satu orang bisa mendapatkan seminimalnya tiga buah. Ini juga berlaku pada jajanan lainnya, aku berusaha membeli yang perorangnya membatasi dirinya karena sudah cukup bukan hanya boleh ambil sekian. Dan karena di rumah sekarang hanya tinggal aku dan adikku sehingga total hanya berempat, jumlah yang perlu dibeli juga pada akhirnya tidak sebanyak itu. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Event Bergengsi Smanti Education Festival

Tentang Menjadi Muslimah: Tokoh Penting Hidup sampai Akhir

Childhood Memories: JKT 48