Postingan

Diri yang Berkembang: Membuat Daily Planner

Aku bertumbuh. Di saat bersamaan, banyak hal terjadi dan berpengaruh pada bagaimana kehidupan sehari-hariku. Bagaimana aku pernah menjadi idealis dengan kegiatanku, menjadi longgar dan tidak terlalu peduli dengan jadwal harian, menjadi 'yang penting kerjaan selesai', sampai sekarang aku sedang mencoba untuk menertibkan diriku lagi.  Banyak referensi yang mendorong kenapa aku mau mencoba menjadi lebih disiplin dengan diriku sendiri. Salah satu yang memegang peranan penting adalah tentang target dan rencana dalam beberapa waktu kedepan. Target lulus kuliah, misalnya. Beberapa inspirasi dari tokoh-tokoh yang aku tonton di media sosial tapi sebelumnya hanya aku simpan tanpa tindakan.  Sebuah  quotes  yang aku dengar dari Pandji Pragiwaksosno dalam beberapa  podcast  yang beliau kutip juga dari buku orang lain (yang aku lupa siapa).  Disiplin itu Membebaskan  Kak Zhafira Aqila yang sedemikian inspiratif dan salah satu yang beliau coba sebarkan ada...

Diri yang Berkembang: Menjadi Netral?

Aku mau menjadi orang yang baik. Bukankah kita semua bermula dengan memiliki keinginan itu? Atau hanya aku saja? Atau mungkin kita menggunakan istilah yang berbeda untuk definisi yang sama. Atau sebaliknya, kita menggunakan istilah yang sama untuk definisi yang berbeda?  Bagiku, setidaknya saat pertama menuliskan ini, definisi menjadi orang baik adalah yang tidak mengganggu orang lain, dapat diterima, dan menerima. Kalau dipikir kembali, definisi baik menurutku juga masih rancu. Nyatanya, 'baik' mungkin tidak akan memiliki definisi absolut karena itu adalah sebuah persepsi. Lalu, aku membawa pertanyaan ini lebih jauh, "bisakah kita menjadi orang yang netral?" Kalau dipikir definisiku menjadi orang baik itu adalah orang yang selalu netral. Namun jika dipikirkan kembali, kita tidak akan mungkin benar-benar bisa berada di tengah. Manusia itu subjektif. Kita akan selalu dipengaruhi oleh kepercayaan, budaya, dan lingkungan kita.       Pertanyaan dan tulisan ini sudah...

Childhood Memories: Acting!

Bermain peran adalah salah satu hal yang ingin aku lakukan ketika sekolah dasar. Keinginan itu bisa jadi berasal dari kesukaanku pada storytelling yang juga mengharuskan aku secara tidak langsung bermonolog disamping menyampaikan narasi cerita. Juga, banyak hal tentang acting yang sangat menarik bagiku. Lalu ketika aku kelas lima, sebuah ekstrakurikuler baru muncul di sekolah yang bernama BK.  *** Bina Karya, sebuah ekstrakurikuler baru yang muncul untuk membangun minat dan bakat dalam ekspresi sastra melalui media manusia. Pembina yang pertama seingatku adalah guru bahasa Indonesia yang kemudian mengajarkan tentang membaca puisi dengan indah sebagaimana diksi dan pesan yang ada di dalamnya. Aku tak seberapa ingat mengenai awal mula mengikuti ekstrakurikuler itu, tapi ada beberapa pengalamanku seiring berjalannya keikutsertaan dalam kegiatan itu. Selanjutnya, dalam waktu sekitar satu bulan, sekolah mempekerjakan seorang pelatih yang sudah mahir dalam dunia teater. Arah ekstrakuri...

Childhood Memories: JKT 48

Kelas 4 Sekolah Dasar, pertama kali ada tugas seni budaya yang mengharuskan tampil menari dan menyanyi sebagai salah satu tugas besar di semester itu. Pada saat yang bersamaan, masa-masa itu sedang ramai-ramainya JKT 48. Disinilah bermula cerita aku yang sangat percaya diri tampil di depan kelas bersama tiga teman lainnya membawakan tarian dan nyanyian dari girlband beranggotakan sangat banyak orang itu.  *** Guruku saat itu adalah salah satu yang masih sangat muda tapi kami anggap cukup strict dengan nilai. Diberikannya kami tugas untuk menampilkan sebuah tarian modern di depan kelas dengan tidak adanya kriteria spesifik. Kami kemudian diberikan kebebasan untuk membentuk kelompok beranggotakan 4-6 siswa. Bersama dengan ketiga teman dekatku, aku akhirnya menjadi satu kelompok dengan cepat.  Awalnya kami masih clueless tentang apa yang kiranya akan ditampilkan. Pada saat itu kami pun mendengar kelas lain sudah mendapatkan arahan terkait tugas yang sama. Kami penasaran. Siapa ta...

Diri yang Berkembang: Peran

Sebuah ajakan permainan basket yang diadakan oleh satu dua orang nyatanya membawa kedatangan belasan orang lainnya. Dalam permainan itu, aku sekaligus menyadari pendewasaan juga membawa kesadaran akan peran yang dimiliki setiap orang. Apa yang aku lihat hari itu merupakan suatu hal yang sangat berbeda dengan bayangan permainan basket yang biasanya dilakukan oleh perempuan pada umumnya (dengan catatan, bukan atlit).  Dari pengalaman yang aku ingat, di masa SMP dan SMA, semua orang akan berkumpul dan berpusat pada bola, tidak ada strategi, tidak ada pembagian peran, yang penting semua bekerja dengan memperebutkan bola untuk ditembakkan ke ring . Apa yang terjadi hari itu sangat berbeda. Peran muncul dengan sendirinya, tidak malu mengakui kemampuan yang dimiliki dan saling mendukung atas usaha yang bisa diberikan. *** Malam sebelumnya seorang temanku mengajak untuk bermain basket di hari minggu meneruskan ajakan dari seorang kakak tingkat yang cukup dekat dengannya. Aku sempat menolak...

Tentang Menjadi Muslimah: Ikhlas

Ikhlas Sebuah kata yang sederhana tapi terasa sangat besar makna dan implementasinya. Suatu hal yang memiliki pengaruh dalam segala apa yang kita lakukan. Sebuah perbincangan bersama seorang teman yang menstimulasi integrasi memori, membawaku pada sebuah kesimpulan. Hasil yang baik pasti melalui proses yang ikhlas Ikhlas yang datang dari satu orang berdampak pada banyak yang terlibat dengannya, pada orang-orang yang mendengarkan, dan hadir dalam kesediaannya memberi. Entah itu berupa materi, kata-kata, eksistensi, dan ilmu. Bahkan dari orang yang tidak lebih tahu bisa mengantarkan orang-orang yang bertumbuh dalam lingkupnya menjadi manusia-manusia hebat. Aku tersadarkan akan bukti-bukti yang telah aku dengar dan alami.  Seorang guru mengaji yang bacaannya tidak seindah muridnya. Dia datang dengan membawa pengajaran dari awal sang anak yang tidak tahu sama sekali. Satu-persatu diajarkannya huruf hijaiyah, berlanjut pada tajwid, hingga irama mengaji. Beliau mengajarkan dengan ketulus...

Tentang Menjadi Muslimah: Berjamaah

Sebagai seorang muslim-muslimah kita pasti sering sholat di masjid. Akan sangat aneh jika kita yang hidup di lingkungan yang cukup mudah mengakses masjid atau setidaknya mushola tidak pernah melaksanakan sholat di sana. Kali ini ada pengalaman dan keresahanku sebagai seorang pengguna masjid. Tentang  perbedaan yang cukup sering kulihat di area perempuan dan laki-laki.  Sholat berjamaah *** Setiap kali memasuki masjid untuk sholat fardhu, sering aku mendapati pemandangan yang mirip terutama ketika tidak di awal waktu. Banyak orang yang melaksanakan sholat sendiri di area perempuan. Berbeda dengan apa yang biasanya kulihat di area laki-laki yang setidaknya ada satu jamaah sedang berlangsung. Biasanya dari jamaah yang hanya dua-tiga orang sangat mungkin untuk menjadi lebih banyak. Laki-laki juga lebih mungkin untuk menepuk orang lain yang sedang sholat meskipun tidak kenal dibandingkan perempuan. Ini adalah sebuah perbedaan yang bisa kuamati diantara kedua gender dalam hal sholat...